Latest News

Showing posts with label Bisnis Kerajinan. Show all posts
Showing posts with label Bisnis Kerajinan. Show all posts

Sunday, February 19, 2012

Kerajinan Sampah Plastik

Kerajinan dari sampah plastik merupakan kerajinan yang bisa menjadi alternatif peluang usaha di sekeliling kita. Seperti diketahui Plastik merupakan bahan kebutuhan yang banyak dipergunakan dalam kehidupan manusia modern. Akan tetapi sisa sampah dari plastik menjadi permasalahan tersendiri bagi kehidupan. Karena Sampah plastik merupakan limbah rumah tangga yang sangat sulit untuk diuraikan berbeda dengan sampah organik yang cepat bisa terurai. Untuk menguraikan sampah plastik diperlukan waktu yang sangat lama bisa berpuluh-puluh tahun, sampah organik bisa diurai dan diubah menjadi kompos dalam beberapa hari saja (Lihat Pengolahan sampah ornganik ). Di lain sisi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari justru semakin meningkat sehinga problem semakin pelik. Solusinya adalah dengan mengurangi penggunaan bahan yang berasal dari plastik atau mendaur ulang sampah plastik menjadi barang yang bermanfaat . Sampah plastik bisa diolah menjadi aneka Kerajinan yang memiliki potensi ekonomi yang cukup baik. Peluang usaha Kerajinan sampah plastik ini disamping mendatangkan rezeki juga mengurangi polusi akibat sampah plastik.

Salah satu yang telah menekuni bisnis Kerajinan sampah plastik adalah Ibu Fajar Purwaningsih, Ibu yang berprofesi sebagai guru TK ini di rumahnya di Perum Taman Sedayu E3, Metes, Argorejo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Sampah-sampah plastik limbah telah berhasil disulapnya menjadi aneka kerajinan yang memiliki nilai seni dan ekonomis. Memulai usaha pengolahan sampah plastik menjadi kerajinan bukanlah perkara yang mudah. Banyak orang yang sinis bahkan menghina saat dia mencari-cari sampah bekas, bahkan anaknyapun sempat bertanya apakah dia bekerja sebagai pemulung. Tetapi semua itu hanya cerita lalu, sekarang justru banyak orang yang ingin belajar darinya cara membuat kerajinan sampah plastik yang bernilai ekonomis dan seni yang tinggi. Bahkan Fajar Purwaningsih malah harus sering keluar rumah untuk memberi penyuluhan, pembelajaran bagaimana cara membuat kerajinan daur ulang ini kepada pihak-pihak yang mengundangnya untuk memberi pelatihan seperti kelompok PKK atau darma wanita, lembaga sekolah.

Pada saat mengawali membuat kerajinan daur ulang ini, ia hanya bisa membuat barang-barang yang sederhana seperti sandal dan tas.Sejak tahun 2007 itu, setelah menjadi mitra salah satu perusahaan penyedia produk toilet tries, Fajar mampu membuat produk baru seperti tas laptop dan payung. Saat ini ia sangat sibuk karena harus mengurusi usahanya yang telah berkembang tidak hanya sebatas memproduksi kerajinan saja tapi juga sudah melangkah dengan memberikan kursus kerajinan daur ulang sampah kering serta pelatihan pengolahan sampah di Pusat Kerajinan Daur Ulang Sampah Kering yang diberi nama Radite Collection.
Cara Mengolah Sampah Plastik Menjadi Kerajinan

Langkah awal mengolah sampah plastik menjadi kerajinan adalah adalah memisahkan sampah kering dan sampah basah. Selanjutnya sampah kering seperti bungkus minuman ringan seperti kopi, susu dan mi instan dibersihkan. Setelah itu plastik-plastik yang telah dicuci dan dikeringkan kemudian dipotong-potong seperti pola barang kerajinan yang akan dibuat. Pola dibuat sesuai dengan bentuk barang yang akan dibuat. Setelah dipotong sesuai dengan pola, langkah selanjutnya adalah menjahit sesuai dengan pola tersebut. Yang diperlukan adalah ketelatenan dari penjahit.

Saat ini kerajinan dari sampah plastik telah menjadi produk fashion tersendiri yang berasal dari barang daur ulang atau bisa disebut trashion. Trashion ini artinya fashion dari sampah.Dengan menjadi trashion nanti, produk kerajinan daur ulang sampah kering akan bisa dinikmati tidak saja kalangan masyarakat menengah ke bawah tapi juga kalangan menengah atas yang biasanya sangat memperhatikan kualitas produk kerajinan yang akan dibeli. (Galeriukm).

Sumber:
1. http://griyagawe.com/2010/02/fajar-purwaningsih-perajin-sampah-daur-ulang/.
2. Sumber Gambar Tas : http://www.sukunan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=5:mengubah-sampah-plastik-menjadi-produk-kerajinan-kreatif&catid=20:kerajinan-sampah-plastik&Itemid=18
3. http://galeriukm.web.id/unit-usaha/handicraft/kerajinan-sampah-plastik

Tuesday, January 10, 2012

Cantiknya Lampu Hias Cangkang Kerang

Kerang merupakan salah satu komoditas laut yang banyak terdapat di perairan Indonesia. Sebagai hasil laut, kerang dikenal memiliki banyak kegunaan (multifungsi) yang biasa dimanfaatkan oleh manusia. Daging kerang misalnya, merupakan bahan baku konsumsi yang memiliki kandungan gizi dan nutrisi penting yang diperlukan oleh tubuh. Banyak variasi menu masakan yang bisa diolah menggunakan daging kerang sebagai bahan bakunya. Sementara limbah (cangkang) kerang, digunakan sebagai bahan baku kerajinan dan aneka aksesoris bernilai jual tinggi.

Salah seorang pelaku usaha yang kemudian memanfaatkan cangkang kerang sebagai bahan baku produk kreatifnya adalah Setyoadi Daru Utama (29). Pria yang akrab disapa Daru tersebut menggunakan cangkang kerang sebagai bahan baku produksi aneka jenis kreasi lampu hias. Ketertarikan Daru dengan keunikan cangkang kerang, membuatnya memiliki ide brilian untuk mengkreasinya menjadi lampu hias yang unik dan menawan. ?Inspirasi awalnya ketika saya sedang berada di Bali, di situ banyak sekali aksesoris berbahan baku cangkang kerang yang unik, dari situ saya mulai berfikir untuk menciptakan produk kreasi dari kerang yang belum banyak diproduksi orang, yaitu lampu hias,? jelasnya kepada tim liputan bisnisUKM, Sabtu (7/1).

Info Produk Aka Craft

Mengusung Aka Craft sebagai nama usahanya, Daru kini memiliki puluhan jenis kreasi lampu hias yang terbagi menjadi 3 ukuran diameter, yaitu 10-15 cm dengan kisaran harga Rp. 200.000,00 s/d Rp. 250.000,00, ukuran 25-30 cm seharga Rp.250.000,00- Rp. 300.000,00, dan 35-40 cm harganya Rp. 350.000,00 ? Rp. 400.000,00. Lampu-lampu tersebut secara rutin diproduksi dengan dibantu beberapa orang karyawannya menggunakan sistem upah harian. ?Untuk ide dan desain, saya biasa kreasi sendiri, selain itu juga menerima masukan dari para buyers,? imbuhnya. Proses produksinya dilakukan dengan menyusun cangkang-cangkang kerang yang sejenis mengikuti pola/ kerangka yang terbuat dari fiber. Hasilnya, lampu hias akan terlihat cantik dengan efek yang menarik ketika lampu dinyalakan.

Saat ini lampu hias Aka Craft memiliki bentuk yang beragam, yaitu bola, bulat telur, bentuk hati, bentuk labu, dan donat. ?Masing-masing memiliki tingkat kesulitan produksi yang berbeda-beda, dan yang pasti dibutuhkan ketelitian yang cukup tinggi untuk menyusun kerang-kerang tersebut menjadi sebuah bentuk yang cantik,? jelas Daru. Menurutnya, jika penyusunanya tidak rapi, kerang akan mudah lepas, sehingga akan merusak kualitas produknya. Diakui Daru, proses produksi lampu yang paling sulit selama ini adalah bentuk labu dan hati, karena ukuranya yang besar. Sementara yang dirasa paling mudah penggarapannya adalah bentuk bulat telur.

Strategi Pemasaran

Pemasaran menjadi kunci bagi Daru dalam memperkenalkan produk kreasinya yang masih tergolong baru tersebut. Untuk itu, selama ini dirinya selalu aktif dalam berbagai pameran produk yang diselenggarakan di wilayah Yogyakarta demi memperkenalkan lampu-lampu hiasnya. ?Saya mengikuti pameran secara mandiri, atau masih menggunakan biaya sendiri, namun hal tersebut tidak sia-sia, karena respon masyarakat terhadap produk ini (lampu hias) sangat bagus,? jelasnya. Diakuinya, pasar luar kota masih lebih tinggi apresiasinya dibandingkan dengan pasar lokal Jogja sendiri.

Selain pasaran lokal seperti Bandung dan Papua, belum lama ini Daru juga mendapat pesanan produk lampu hias dari Singapura. Hal itu tidak terlepas dari media pemasaran via pameran yang selama ini Daru jalankan. ?Adanya ketertarikan pihak luar (negeri), membuat saya semakin yakin jika produk ini ke akan semakin luas pasarnya, tidak hanya nasional, namun juga internasional? tambahnya.

Ke depannya, Daru ingin segera merealisasikan workshop yang lokasinya jadi satu dengan rumahnya di Perum Taman Kuantan No.B7, Sendangadi, Mlati, Sleman. Workshop tersebut nantinya bisa digunakan sebagai lokasi produksi sekaligus menampung lampu-lampu hias kreasinya untuk dipasarkan.

Sumber : http://bisnisukm.com/cantiknya-lampu-hias-cangkang-kerang.html

Tuesday, January 3, 2012

Bisnis Sepatu Lukis Menggiurkan Beromzet Puluhan Juta Per Bulan

Sepatu-sepatu kanvas pernah menjadi trend remaja ibukota. Produk buatan dalam negeri ini telah populer di kalangan generasi muda sejak beberapa tahun sebelumnya.

Sejumlah mahasiswa di jakarta beralih dari sepatu kets mereka ke sepatu kanvas yang lebih kental dengan nuansa budaya nasional. Meski sederhana, namun hiasan seni sepatu yang dibuat para seniman ITB ini membuat sepatu menjadi menarik.

Murah dan nyaman, inilah yang menjadi daya tarik utama sepatu kanvas. Desainnnya yang kaya dan menarik juga menjadikan sepatu-sepatu ini dapat digunakan oleh hampir semua kalangan. Pembuatan desain pada sepatu kanvas cukup unik. Motif-motif seperti tumbuhan, alam dan binatang digambar secara langsung pada sepatu oleh para seniman.

Ide membuat sepatu kanvas pertama kali diperkenalkan oleh 3 seniman asal Jakarta, yaitu Christina Budi Utami, Diah Dani dan Kurniasyah, setelah ketiganya lulus dari Institut Teknologi bandung.

Bisnis sepatu kanvas ketiga seniman tersebut dikukuhkan dengan pemberian label Positively Pink. Setiap bulan, mereka bisa mengahsilkan 100 pasang sepatu kanvas. Harga per pasangnya pun cukup terjangkau, mulai dari 150.000 ribu rupiah untuk desain yang sederhana hingga 250.000 rupiah untuk design agak rumit.

Dengan sedikit perubahan dan inovasi, mudah-mudahan trend ini akan terus bertahan sampai beberapa tahun kemudian.

Begitu juga dengan perempuan yang satu ini, berawal dari hobi melukis dan gonta ganti sepatu, Andina Nabila Irvani memulai bisnis sepatu kanvas lukis bersama kakaknya Nerissa Arviana. Kini mereka pun memiliki produk lain seperti kaos dan tas lukis.

Andina yang akrab disapa Dina, mulanya membuatkan lukisan pada sepatu kakaknya. Tidak disangka banyak teman-teman kakaknya tertarik dengan buah karya Dina. Sejak itu pun pesanan sepatu kanvas lukis terus berdatangan.

Dengan modal pinjaman dari orang tuanya, mahasiswa semester tiga Desain Kominikasi Visual Bina Nusantara ini mendesain dan melukis sendiri di beberapa pasang sepatu. Begitu dipasarkan ke teman-temannya di kampus, selusin sepatu kanvas lukis Dina terjual habis.

"Awalnya masih sanggup negerjain berdua sama kakak. Tapi makin kesini jadi ga punya waktu buat jalan-jalan karena makin banyak pesanannya, akhirnya saya cari karyawan untuk bantu lukis" ujar Dina yang kini memiliki lima karyawan.

Kreativitas Dina tidak berhenti di sepatu saja. Pemenang Shell Live WIRE Business Start Up Award 2009 ini mencoba membuat kaos lukis dan tas lukis. Hasilnya, tidak kalah bagusnya dengan sepatu lukis.

Keunikan dari sepatu, kaos dan tas lukis Dina adalah ketajaman warna dan kehalusan pada setiap lukisan yang dibuatnya. Selain itu Dina dan Nerissa rajin mencari tema lukisan setiap bulannya. "Setiap bulan kami punya tema-tema gambar. Tapi pembeli juga bebas untuk buat sendiri sketsa lukisannya," lanjut Dina.

Dina membuat brand produknya dengan nama Spotlight. Ada Lima jenis sepatu lukis yang dijual Dina, yaitu vans style, flats style, converse style, flats bertali dan sepatu putih polos untuk dilukis sendiri oleh pembali. Untuk sepasang sepatu lukis dijual seharga Rp 110.000 - 200.000, tas lukis dan kaos dipatok seharga Rp 100.000.

Kini pemesan sepatu lukis tidak hanya sekitar Jakarta saja tapi sudah sampai luar pulau Jawa bahkan sampai Aceh dan Papua. Dina mengaku, kini omsetnya sudah mencapai Rp 18-20 juta per bulan. Menurutnya kesuksesan usaha ini tidak lepas dari dukungan orang tuanya. (fn/ld/rp)

Sumber : www.suaramedia.com

Tags